 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Suatu Perjalanan Pulang ke Rumah
oleh Rosalind Moss
Sewaktu saya mulai melakukan
suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya - yaitu untuk
mempelajari klaim-klaim Gereja Katolik - saya bersandar pada doa,
khawatir bahwa yang jahat akan menipu dan membuat saya tiada berguna
bagi kerjaan Kristus yang telah saya kenal dan kasihi.
Saya dibesarkan di suatu keluarga Yahudi, yang
masih merayakan banyak dari tradisi-tradisi Yahudi, setidaknya di
saat saya masih kecil. Saya ingat punya suatu perasaan khusus bahwa
Allah yang tunggal adalah Allah kami dan bahwa kami adalah umat-Nya.
Akan tetapi ketika saya mulai tumbuh besar dan menempuh jalan kami
masing-masing, banyak hal yang kami tinggalkan di belakang. Akhirnya
kakak laki-laki saya, David, menjadi seorang ateis, dan saya, mungkin,
menjadi seorang agnostik (tidak peduli eksistensi Allah).
Pada musim panas tahun 1975 (saat itu kami
berusia tigapuluh tahunan) saya mengunjungi David. Selama bertahun-tahun
David telah mencari kebenaran, mencari makna hidup ini, dan untuk
memastikan apakah Allah itu sungguh-sungguh ada. Seringkali saya
berpikir pada diri sendiri,
Apa yang membuat
kamu berpikir bahwa kebenaran itu ada?! ... bahwa ada sesuatu hal
yang merupakan kebenaran? Dan apa yang membuat kamu berpikir bahwa
kamu bisa menemukannya? Bukankah serupa seperti layaknya mencari
jarum di tumpukan jerami? Dan bagaimana kamu akan mengenalinya?
Bahkan
sekalipun kebenaran itu ada, dan kamu dapat menemukannya, dan kamu
tahu ketika kamu telah memilikinya ... dan bahkan jika kebenaran
itu berada bahwa Allah itu ada - lalu apa selanjutnya? Bagaimana
dengan mengetahui kebenaran itu bisa membuat suatu perubahan dalam
hidupmu?
Pada percakapan kami dalam pertemuan ini, David
menceritakan kepada saya bahwa dia telah menemukan suatu artikel
yang mengatakan bahwa ada orang-orang Yahudi - orang-orang keturunan
Yahudi - yang masih hidup, di dunia ini, yang percaya bahwa Yesus
Kristus adalah Mesias orang Yahudi - Sang Mesias (!) yang masih
kami tunggu-tunggu kedatangannya selama ini. Saya tidak akan pernah
melupakan kekagetan yang menjalari seluruh tubuh saya pada saat
itu. Pikiran saya melayang balik ke tahun-tahun ketika kami duduk
di meja Paskah Yahudi dalam pengharapan akan kedatangan Mesias,
menyadari bahwa Dia adalah satu-satunya pengharapan yang kami miliki.
Dan sekarang David mengatakan kepada saya bahwa ada orang-orang
- orang-orang Yahudi - yang percaya bahwa Dia telah datang?!
Saya berkata kepada David, "Maksudmu mereka
percaya Dia telah ada disini - di dunia ini?! Dan t-a-k s-e-o-r-a-n-g-p-u-n
tahu??? Dunia ini tidak berubah? Dan Dia telah pergi???!"
Sekarang lalu apa? Tiada lagi harapan, tiada
yang tersisa. Ini gila-gilaan. Selain itu, engkau tidak bisa menjadi
seorang Yahudi dan sekaligus percaya pada Kristus.
Dalam waktu tiga bulan sejak percakapan itu,
saya telah pindah ke negara bagian Kalifornia dan bertemu dengan
beberapa orang Yahudi ini yang percaya pada Kristus. Mereka tidak
hanya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias bangsa Yahudi, tetapi
bahwa Dia adalah Allah yang turun ke dunia! Bagaimana seseorang
bisa berpikir seperti itu? Bagaimana seorang manusia adalah Allah?
Bagaimana engkau bisa melihat Allah dan tetap hidup?!
Dalam satu malam yang merubah hidup saya, saya
berada bersama-sama suatu kelompok orang Yahudi ini, yang kesemuanya
adalah umat Kristen pengikut Kristus - semua adalah umat Kristen
Protestan Injili (Evangelical-Protestant). Mereka mengatakan kepada
saya bahwa Allah perlu mencurahkan darah bagi pengampunan dosa dan
mereka menerangkan bagaimana, dibawah sistim kurban Perjanjian Lama,
orang-orang datang setiap hari untuk mempersembahkan binatang kurban
bagi dosa-dosa mereka - lembu, kambing, domba. Kalau kurban itu
seekor anak domba, maka harus jantan, satu tahun umurnya, dan harus
sempurna tanpa cacat atau cela. Orang tersebut akan meletakkan tangannya
diatas kepala anak domba sebagai simbol bahwa dosa dipindahkan dari
orang tersebut kepada binatang itu. Dan anak domba itu - yang tidak
berdosa tetapi secara simbolis telah menerima dosa-dosa orang itu
- lantas dijagal, dan darahnya akan dituangkan diatas altar sebagai
persembahan bagi Allah untuk membayar dosa-dosa orang tersebut.
Saya tidak dapat mengerti mengapa Allah membuat
binatang yang tak berdosa untuk dosa-dosa saya? Tetapi saya mulai
mengerti bahwa dosa itu bukan suatu hal yang ringan dimata Allah.
Mereka juga menerangkan bahwa kurban binatang itu bersifat sementara,
bahwa kurban itu perlu diulang-ulang, dan bahwa kurban itu bukan
persembahan yang sempurna. Kurban-kurban itu mendahului Yang Satu
yang suatu waktu akan datang dan menanggung pada diri-Nya - bukan
dosa seorang demi seorang - tetapi dosa-dosa seluruh dunia, dan
untuk sepanjang masa.
Dan mereka menunjukkan kepada saya satu saja
ayat di Perjanjian Baru, Yohanes 1:29, ketika Yesus datang dan Yohanes
Pembaptis, memandang kepada-Nya dan berkata, "Lihatlah Anak
Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia!" Anak Domba Allah
- kurban satu-untuk-semua yang final, yang didahului oleh semua
kurban-kurban dalam Perjanjian Lama. Sayapun terguncang. Saya tidak
dapat mempercayai apa yang baru saja saya mengerti. Rintangan terbesar
adalah bahwa seorang manusia tidak mungkin adalah Allah! Tetapi
saya menyadari pada malam itu bahwa - jika Allah itu ada - Dia bisa
menjadi seorang manusia! Allah bisa menjadi apapun atau siapapun
yang Dia kehendaki; Saya tidak akan mengajari Dia bagaimana cara
menjadi Allah!
Tidak lama setelah kejadian itu saya memberikan
hidup saya kepada Kristus. Dan dalam waktu semalam saja Allah telah
mentransformasi hidup saya. Saya nyaris sama sekali tidak tahu tentang
Evangelikalisme (Injili) ataupun Protestanisme. Saya telah menjadi
seorang Kristen. Saya telah memiliki hubungan pribadi dengan Allah
seluruh jagat raya dan suatu alasan untuk menjalani hidup ini untuk
pertama kalinya dalam hidup saya. Saya ingin membawa corong suara
ke bulan dan meneriakan kepada seluruh penduduk bumi bahwaAllah
ada dan bahwa mereka bisa mengenal-Nya.
Pelajaran Alkitab saya yang pertama sebagai
seorang Kristen baru diajarkan oleh seorang mantan Katolik, yang
dirinya sendiri pernah diajarkan oleh seorang mantan imam Katolik.
Jadi saya belajar sejak permulaan bahwa Gereja Katolik adalah suatu
sekte, sistem agama yang semu yang membawa berjuta-juta orang tersesat.
Selama bertahun-tahun saya mengajarkan tentang keburukan Gereja
Katolik, mencoba untuk menolong orang-orang, bahkan keluarga-keluarga
seluruhnya, dengan membawa mereka keluar dari agama buatan manusia,
kedalam hubungan yang sejati dengan Kristus lewat kekristenan satu-satunya
yang saya kenal dan saya percaya dengan segenap hati saya.
Kira-kira setahun setelah komitmen saya pada
Kristus, David menelpon saya untuk mengatakan bahwa dia telah menjadi
percaya bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa, baginya, hal ini juga
berarti memberikan hidupnya kepada Kristus. Tetapi dia belum siap
untuk memberikan komitmen dirinya pada gereja manapun juga pada
saat itu (meskipun dia telah menghadiri kebaktian-kebaktian Baptis).
Jumlah denominasi-denominasi Protestan yang terus bertambah dan
kelompok-kelompok yang memisahkan diri, bagi David adalah suatu
kesaksian yang buruk akan kata-kata Kristus bahwa Dia akan membangun
Gereja-Nya. Dimana persatuan? Bagaimana bisa, dia bertanya, umat
Kristen yang tulus, lahir-kembali, percaya pada Alkitab, didiami
dan dipimpin oleh Roh Kudus yang sama, bisa datang pada interpretasi
yang berbeda-beda?
Inilah satu diantara berbagai pemikiran yang
membawa David untuk mempelajari Gereja Katolik Roma. Sayapun merasa
ngeri dan khawatir baginya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang Kristen
yang sejati dan percaya pada Gereja Katolik?
Waktu itu Natal tahun 1978 ketika saya mengunjungi
David kembali. Dia membawa saya bertemu dengan seorang biarawan
yang selama ini telah membimbingnya dalam belajar dan saya yakin
adalah agen iblis dalam misi untuk menyesatkan kakak saya. Dan lalu
kami pergi menghadiri Misa tengah-malam Malam Natal. Itu adalah
untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di suatu gereja Katolik.
Saya duduk dengan terbengong-bengong sepanjang Misa Kudus, dan juga
sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Ketika saya akhirnya dapat
berbicara, saya berkata kepada David: "Mirip dengan sebuah
sinagoga (bait Allah - rumah ibadah orang Yahudi), tetapi ada Kristusnya!!"
Dia berkata, "Benar!" Dan saya lalu menjawab, "Salah!!!!
Kristus telah menggenapi hukum nabi Musa; semua ritual dan hal-hal
sudah disingkirkan!" Hati saya terasa sakit. Bagaimana David
bisa terjebak seperti itu? Apakah dia punya batu sandungan? Apakah
dia tertarik dengan liturginya? kepada keindahan artistis, dari
latar belakang Yahudi kami? Tidakkah dia bisa melihat Kristus sebagai
tujuan akhir semua ini?
David menjadi Katolik pada tahun 1979. Tagihan
telepon kami antara Kalifornia dan New York sangat tinggi selama
tahun-tahun berikutnya. Lebih dalam dia terjun dalam apa yang saya
anggap sebagai kesesatan, lebih dalam lagi saya melahap apa yang
saya tahu sebagai kebenaran. Setelah menyelesaikan institut Alkitab
di gereja saya, saya memasuki program paska sarjana di Talbot Theological
Seminary di La Miranda, Kalifornia, sekaligus menjadi pelayan full-time
ministri di lembaga permasyarakatan Lancaster, Kalifornia. Keinginan
saya yang terdalam setelah lulus adalah menjadi staff di gereja
setempat untuk mengajar kaum wanita, menolong mereka untuk membesarkan
keluarga yang diridhoi oleh Allah dan untuk menjangkau orang-orang
lain dengan Kabar Gembira.
Allah yang memberi kita keinginan-keinginan
dalam hati kita adalah Allah yang sama yang membawa keinginan-keinginan
ini menjadi kenyataan. Setelah tamat dari Talbot di bulan Mei 1990,
saya dipanggil untuk menjadi staf suatu gereja Sahabat Injili (dari
aliran Quaker) di wilayah Orange, Kalifornia, sebagai direktur pelayanan
wanita. Secara doktrinal, denominasi Sahabat (Friends) ini tidak
sepenuhnya sesuai dengan kepercayaan saya, karena mereka telah menghapuskan
pembaptisan dan komuni. Gereja yang satu ini, akan tetapi, dibawah
kepemimpinnan seorang pastor yang baru, dari latar belakang Baptis
(dan mantan Katolik), telah membawa kembali pembaptisan dan komuni
ke kongregasi tunggal ini dalam denominasi tersebut.
Dalam bulan transisi yang menentukan dari pelayanan
penjara ke gereja lokal itu, saya kembali mengunjungi David di New
York. Bulan Juni tahun 1990. Dalam salah satu percakapan maraton
kami, David bertanya, "Bagaimana kok kaum Injili tampaknya
tidak ingin berusaha untuk bersatu? Tidakkah Yesus berdoa bahwa
kita semua akan menjadi satu ...?" Saya melihat kesulitan muncul.
"Ya, Yesus berdoa supaya kita menjadi satu, seperti Dia dan
Bapa adalah satu .. tetapi tanpa mengorbankan kebenaran!"
Setelah itu David menanyakan jika saya pernah
membaca terbitan majalan yang berada diatas meja yang berjudul "This
Rock" (Batu Karang Ini), yang disebutkannya sebagai suatu majalah
"apologis Katolik". Saya bahkan tidak dapat mengerti dua
kata itu bisa digabungkan jadi satu. Saya tidak pernah tahu bahwa
umat Katolik punya pembelaan terhadap imannya - tak seorang Katolikpun
pernah berbicara tentang Injil kepada saya. Lebih jauh lagi, saya
tidak pernah mengenal umat Katolik yang peduli akan orang-orang
yang tahu Alkitab.
Saya membawa majalah itu bersama sama kembali
ke Kalifornia karena rasa ingin tahu, tetapi juga karena rasa hormat
kepada orang-orang yang setidak-tidaknya ingin memberitahukan kepada
orang-orang lain tentang apa yang dipercayainya - meskipun mereka
salah sekalipun. Di dalam majalah itu ada iklan satu halaman penuh
yang berbunyi: Pendeta Presbiterian Menjadi Katolik. Tidak mungkin!
demikian kata saya pada diri sendiri. Saya tidak peduli apa anggapan
orang itu terhadap dirinya, atau apa pekerjaannya, tidak mungkin
"pendeta Presbiterian" ini bisa menjadi seorang Kristen
yang sejati jika dia masuk Katolik. Bagaimana dia bisa mengenal
Kristus dan tertipu?
Saya lantas memesan seri 4 kaset dari mantan
pendeta Presbiterian ini (yang namanya adalah Scott Hahn) berikut
perdebatan dua bagian dengan seorang profesor dari Wesminster Theological
Seminary menyangkut topik justifikasi (iman saja versus iman dan
perbuatan). Pernyataan penutup Scott Hahn menyarikan 2000 tahun
sejarah gereja dan berpuncak dengan pemikiran bahwa mereka yang
mau meneliti klaim-klaim Gereja Katolik dan menilai bukti-bukti
yang ada akan sampai pada "kejutan besar dan kecengangan yang
mulia" karena menemukan bahwa apa yang selama ini mereka serang
dan coba membawa orang-orang keluar daripadanya, ternyata sesungguhnya
justru adalah Gereja yang Kristus dirikan di dunia ini.
Kekagetan luar biasa adalah kata-kata yang
bisa menjelaskan apa yang saya alami pada saat itu. "Oh tidak,"
pikir saya, "jangan katakan pada saya bahwa semua ini adalah
benar." Pikiran itu melumpuhkan saya. Saya tidak dapat percaya
apa yang saya pikirkan. Dan hal itu datang pada saat yang paling
tidak menyenangkan. Dalam waktu dua minggu saya akan mulai bekerja
di gereja yang baru.
Saya membaca ulang pernyataan doktrinal denominasi
Friends yang segera saya akan bergabung dengannya. Ada cerita tentang
pendirinya, George Fox, yang pertobatannya yang dramatis di tahun
1600 memenuhi dirinya dengan kecintaan yang mendalam pada Allah
dan semangat untuk menentang penyelewengan-penyelewengan pada jamannya.
Dalam keinginannya supaya Allah disembah dalam roh dan dan dalam
kebenaran, Fox menghapuskan dua sakramen atau ordinansi yang tersisa,
yang telah dibiarkan oleh Martin Luther, yaitu Pembaptisan dan Komuni
- supaya iman jangan diletakkan pada unsur anggur, roti dan air,
melainkan pada Allah yang menjadi pusatnya.
Saya menyukai semangat George Fox, tetapi saya
percaya bahwa dia salah. Pembaptisan dan Komuni jelas-jelas diperintahkan
dalam Kitab Suci meskipun saya percaya mereka hanya sebagai simbol
saja. Lantas muncul pikiran: Bagaimana jika Luther ternyata melakukan
apa yang George Fox lakukan? Bagaimana jika Luther, karena semangat
dan kasihnya kepada Allah, juga menghapuskan apa yang dikehendaki
oleh Allah? Nyali saya menjadi ciut dan kekhawatiran saya membesar.
Apakah pikiran-pikiran saya berasal dari Allah? Apakah berasal dari
setan? Saya hanya bisa menyadari bahwa dihadapan Allah, saya harus
menemukan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Selama dua tahun berikutnya sebagai staf gereja
Friends, saya memesan buku, pita rekaman, bahkan langganan majalah
This Rock, meskipun saya tidak menyukai apapun yang berbau Katolik
datang di kotakpos saya. Ketika saya memberitahu David tentang penyelidikan
saya, dia menantang saya tentang doktrin Sola Scriptura. "Ros,
dimana Alkitab mengajarkan tentang Sola Sciprtura?" Pertanyaan
ini mengusik saya. Saya pernah mendengar sebelumnya dan saya memilih
untuk mengabaikannya. "Jika," saya pikir, "engkau
sungguh mengenal Kristus, jika engkau percaya Kitab Suci sebagai
Firman Allah, jika Roh Kudus bekerja dalam hidupmu, menerangi dan
menguatkan Firman-Nya kepadamu, engkau tidak akan menanyakan pertanyaan
seperti itu. Mengapa engkau menjadikan tantangan terhadap otoritas
Alkitab sebagai fokusmu dan bukannya berpegang padanya sebagai santapanmu?"
Dia mencoba meyakinkan saya bahwa dia percaya
bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah, tidak bercela, tidak memiliki
kesalahan dan memiliki wibawa. "Tetapi," dia bertanya,
"dimana Alkitab mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya
otoritas? Dan dimana Kitab Suci mengatakan Firman Allah terbatas
pada hal-hal yang tertulis?"
Saya menyebutkan sejumlah ayat-ayat Alkitab
(2 Tim 3:16,17; 2 Pet 1:20-21, dan lain-lain), tetapi tidak satupun
menjawab pertanyaan David. Bahkan ayat-ayat ini menimbulkan pertanyaan-2
lanjutan: "Bagaimana kita tahu Perjanjian Baru adalah bagian
Kitab Suci? Ayat-ayat tersebut hanya merujuk pada Perjanjian Lama
karena Perjanjian Baru berlum dijadikan saat itu, setidaknya tidak
dalam bentuk utuh seperti sekarang. Semakin dalam saya menggali
masalah ini saya berhadap-hadapan dengan fakta bahwa Kitab Suci
tidak mengajarkan sola scriptura dimanapun juga.
Tanpa perlu menjelaskan maksud penyelidikan
saya, saya melontarkan pertanyaan yang sama kepada para pastor dan
pemimpin studi Alkitab. Tak seorangpun bisa menjadi dari Alkitab.
Masing-masing datang dengan ayat-ayat yang sama seperit yang saya
lihat sebelumnya dan ketika saya membalikan bahwa ayat-ayat itu
tidak mengajarkan bahwa Alkitab adalah otoritas satu-satunya, mereka
dengan enggan mengiyakan, dan "ayat yang mengganggu pikiran
saya" tidak pernah teringat oleh siapapun. "Betapa mencengangkan,"
saya berpikir. "Kita mengajarkan doktrin Alkitab saja tetapi
Alkitab sendiri justru tidak pernah mengajarkannya. Akan tetapi,
tetap saja hal ini tidak membuktikan bahwa ada otoritas lain diluar
Alkitab.
Pemikiran itu terus muncul: kaum Injili mengajarkan
doktrin yang tidak ada di Alkitab sementara menyangkal bahwa ada
sesuatu di luar Alkitab yang juga punya otoritas. Ada yang salah
disini. Dan kalau kita salah dalam hal ini, apakah mungkin kita
juga salah dalam hal lainnya? Bagaimana bisa, umat Protestan menerima
Kanonisasi (standarisasi) Alkitab - percaya bahwa Allah yang memberi
inspirasi pada Alkitab juga memimpin orang-orang di konsili-konsili
di abad ke-4 dan ke-5 untuk mengenali kitab yang mana yang merupakan
inspirasi Allah, tetapi menghapuskan banyak doktrin-doktrin utama
seperti Ekaristi, Pembaptisan, Suksesi Apostolik dll? Lebih jauh
lagi, pada 400 tahun pertama, sebelum kanon Alkitab difinalisasi,
lebih dari 1000 tahun sebelum ditemukannya mesin cetak, iman Kristen
bisa terpelihara, diteruskan secara oral dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Bagaimana bisa dalam 400 tahun terakhir kekristenan
sejak masa Reformasi, dengan kanon Alkitab yang sudah ada, iman
itu telah terpecah menjadi ribuan denominasi, masing-masing dengan
doktrin yang berbeda dan bersaing, meskipun masing-2 mengaku "berpegang
pada Firman Allah?"
Saya mulai membaca segala yang bisa saya temukan,
kapanpun saya bisa, sampai saya menyadari setelah dua tahun bahwa
saya harus meninggalkan gereja saya di Kalifornia dan mendedikasikan
diri saya untuk menentukan jika Gereja Katolik adalah sungguh-sungguh
seperti pengakuannya. Saya pindah ke New York dan mulai apa yang
menjadi pencarian yang intensif selama dua setengah tahun. Selama
berbulan-bulan saya membaca setiap karya Protestan Injili yng bisa
saya temukan yang berseberangan pendapat dengan Gereja Katolik.
Saya ingin dibebaskan dari nasib kemungkinan menjadi Katolik nantinya.
Dengan kekecewaan yang besar saya menemukan bahwa para pengarang
Injili ini berseberang pendapat dengan apa yang mereka percaya diajarkan
oleh Gereja Katolik. Mereka berargumentasi dengan apa yang mereka
percaya diajarkan oleh Gereja Katolik, dan agaknya pemahaman dan
kesalah-pahaman mereak terhadap ajaran Gereja Katolik, mencerminkan
perspektif Protestan darimana mereka berasal. Ucapan bijak dari
almarhum Uskup Agung Fulton Sheen menjadi nyata: "Tidak ada
seratus orang di Amerika Serikat yang membenci Gereja Katolik. Ada
berjuta-juta orang, yang membenci apa yang secara salah mereka percaya
sebagai Gereja Katolik - yang mana, tentunya, sangat berbeda."
Setiap penemuan tentang suatu ajaran Katolik
membawa saya untuk kembali meneliti sejumlah doktrin-doktrin Injili.
Dan dengan setiap pemikiran yang membawa saya lebih dekat dengan
Gereja, suatu perasaan duka dan kematian menyelimuti saya dalam
memikirkan bahwa saya akan terpisah tidak hanya dengan gereja saya
di Kalifornia, tetapi dengan satu-satunya kekristenan yang telah
saya kenal selama 18 tahun.
Sebelum meninggalkan Kalifornia, seorang pastor
yang saya kasihi dengan siapa saya berbagi pencarian kebenaran ini,
bertanya: "Jika tidak ada Gereja Katolik, apakah pemahamanmu
tentang Perjanjian Baru juga akan membawamu untuk menciptakan iman
Katolik?" Jawaban saya waktu itu adalah, "Itulah yang
sedang saya cari tahu." Setahun sesudahnya, saya akan mengatakan
begini, "Tidak, saya tidak akan sampai pada Gereja Katolik,
tetapi saya juga tidak akan bersama-sama lagi dengan Protestan Injili."
Saya telah menjadi seorang Kristen tanpa rumah. Saya tidak bisa
memikirkan menjadi Katolik, tetapi saya juga tidak bisa kembali
kepada Evangelikalisme.
Tiga buku sangat membantu saya selama pencarian
ini: Essay on the Development of Christian Doctrine, Liturgy and
Personality, The Spirit of Catholicism. Lebih banyak saya baca,
lebih banyak saya merasakan keindahan, kedalaman, kegenapan desain
Allah atas Gereja-Nya melebihi segala hal yang saya kenal. Dalam
setiap hal, termasuk tiga yang paling terkenal dalam Reformasi -
sola gratia, sola fide, sola scriptura - saya menjadi percaya bahwa
Gereja Katolik selaras dengan Alkitab. Segala apa yang saya baca
tentang ajaran dan hidup Katolik membawa saya lebih dekat kepada
Gereja; sementara sebagian besar yang saya perhatikan membuat saya
ingin melarikan diri daripadanya. Dimana Gereja yang saya baca di
buku-buku? Dimana Gereja yang bisa disebut "rumah"?
Suatu hari Minggu, saya duduk di bangku belakang
sebuah paroki Katolik yang saya kunjungi pertama kalinya. Saya mendengar
imam mengatakan apa yang tidak pernah saya dengar dari orang Katolik
sebelumnya. Pada konklusi pesan Injil, dia berkata kepada kongregasi,
"Kita perlu memberitahukan kepada seluruh dunia!" Hati
saya terpaku. Inilah pertama kalinya saya merasakan semangat untuk
memenangkan jiwa-jiwa yang diteriakan dari atas mimbar sebuah Gereja
Katolik.
Air mata sayapun meleleh. Sejak pertama saya
bertemu Kristus, saya telah menjalani hidup ini untuk memberitahukan
orang-orang tentang Dia. Saya berpikir, jika Gereja Katolik itu
benar, mengapa tidak ada orang Katolik yang Evangelikal? Evangelikal
(Injili) bukan sinonim dengan Protestanisme. Untuk menjadi seorang
Injili adalah untuk menjadi seorang utusan: yaitu untuk menjangkau
kepada dunia yang hilang dan terluka untuk memberitahukan kepada
mereka tentang kabar gembira Kristus - bahwa ada seorang Juru Selamat
yang datang bagi orang-orang berdosa dan memberikan nyawanya kepada
semua yang mau datang kepada-Nya.
Saya bertemu dengan romo tersebut, Father James
T.O'Connor, pastor paroki St.Joseph di Millbrook, New York, pada
permulaan tahun 1995. Dalam dua pertemuaan dia sangat membantu saya
dengan beberapa topik yang sulit, terutama menyangkut Misa Kudus
dan sifat sakramental Gereja. Saya menyadari, segera sesudahnay,
bahwa pertanyaan tiga tahun terjawab sudah. Saya tahu bahwa di hadapan
Allah, saya perlu masuk Gereja Katolik... yang mana hal ini saya
lakukan pada Paskah 1995. Saya telah menemukan Gereja yang adalah
rumah saya.
Saya masih sedikit kikuk. Saya merasa seperti
telah mengarungi lautan dan masih belum tahu cara navigasi. Tetapi
saya tahu bahwa itu adalah kebenaran. Tidak hanya perbedaan-perbedaan
doktrinal yang memisahkan Protestan Injili dengan Katolik. Tetapi
suatu cara pandang yang berbeda. Dunia saya telah terbuka lebar.
Segala penciptaan telah memiliki makna yang baru bagi saya.
Saya telah menyambut segala ajaran Gereja yang
didirikan Kristus 2000 tahun lalu. Ini adalah Gereja tersebut, didirikan
atas para rasul dan nabi, biji sesawi yang telah tumbuh menjadi
sebuah pohon, yang telah dipelihara dan meneruskan iman yang suatu
ketika diberikan kepada orang-orang kudus; bahwa Gereja yang telah
berdiri diuji oleh waktu sepanjang jaman, setiap bidaah, kebingungan,
perpecahan dan dosa. Dan inilah Gereja yang akan terus berdiri hingga
akhir jaman, karena sungguh-sungguh merupakan Tubuh-Nya, dan dalam
esensinya karenanya, kudus, tidak akan pernah berubah, dan abadi.
Dan rahmat demi rahmat inilah Gereja yang telah
mengembalikan kepada saya kekhidmatan, keagungan, pesona yang saya
kenal sewaktu saya kecil di sinagoga-sinagoga. Saya berkata kepada
David suatu ketika, "Saya merasa seolah saya kembali memiliki
Allah." Betapa aneh pernyataan yang keluar dari mulut seseorang
yang telah mengenal Dia begitu indahnya dan setulusnya lewat Protestan
Injili. Tetapi dalam kebebasan dan familiaritas ekpresi dan ibadah
Injili, rasa Allah yang transenden seringkali hilang. Sungguh baik
untuk membungkuk hormat dihadapanNya.
Dan saya telah melihat bahwa Allah yang transenden,
telah memberikan kita Putera-Nya, dan dalam Tubuh-Nya, yaitu Gereja,
melebihi apa yang bisa saya bayangkan - tidak melebihi Kristus,
tidak selain daripada Kristus, melainkan Kristus seutuhnya.
"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat
dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya
dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33)
Selama saya masih diberi nafas oleh Allah,
saya ingin memberitahukan kepada dunia tentang sang Juru Selamat
dan Gereja-Nya yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.
|