 |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
 |
Katekismus Praktis
(diterjemahkan dari buku "A Catechism
for Adult" oleh Father Cogan)
Bagi banyak orang, Tuhan adalah semacam mahluk
yang tidak dikenal. Entah dengan cara bagaimana, Dia menciptakan
alam semesta beserta isinya, tetapi Dia tidak tertarik dengan manusia
yang tinggal di planet ini. Ini sungguh suatu pendapat yang salah
besar.
Bagian ini didesain untuk memberikan kepada
pembaca pengetahuan tentang ajaran-ajaran Gereja Katolik dan memperkenalkan
pembaca kepada prinsip-prinsip Alkitab yang mendasari ajaran-ajaran
ini. Anda akan melihat betapa Tuhan sangat memperhatikan kita dan
betapa besar rasa kasih-Nya kepada kita.
Semoga pelajaran ini menjadi alat bantu yang
bermanfaat bagi perkembangan spiritual anda dan juga membantu anda
menghadapi persoalan-persoalan hidup yang anda alami.
"Percayalah pada Tuhan maka Iapun menghiraukan
dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya" (kitab
Sirakh 2:6)
I. Kehidupan Manusia - Mengenal dan Mencintai
Allah
1. Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan
bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena
kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak
bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya
yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana-mana Ia dekat
dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya,
untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya.
Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai berai satu dari yang
lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan
seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus
sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia
dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya
dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang
bahagia.
2. Supaya panggilan ini didengar di seluruh
dunia, Kristus mengutus para Rasul yang telah dipilih-Nya dan memberi
mereka tugas untuk mewartakan Injil: "Karena itu, pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:19-20).
Berdasarkan perutusan ini mereka "pergi memberitakan Injil
ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman
itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:20).
3. Barangsiapa dengan bantuan Allah telah menerima
panggilan ini dan telah menyetujuinya dalam kebebasan, ia didorong
oleh cinta kepada Kristus supaya mewartakan Kabar Gembira kepada
seluruh dunia. Warisan bernilai yang diterima dari para Rasul ini
dipelihara dengan setia oleh pengganti-pengganti mereka. Semua yang
beriman kepada Kristus dipanggil supaya melanjutkannya dari generasi
ke generasi, dengan mewartakan iman, dengan menghayatinya dalam
persekutuan persatudaraan dan dengan merayakannya dalam liturgi
dan dalam doa.(bdk. Kis 2:42))
II. Mewariskan Iman - Katakese
4. Gereja berusaha untuk menjadikan manusia
murid-murid Kristus; ia hendak membantu mereka agar dapat percaya
bahwa Yesus adalah Putera Allah, supaya dengan perantaraan iman
itu mereka memperoleh kehidupan dalam nama-Nya. Melalui pengajaran,
Gereja berusaha mendidik manusia menuju kehidupan ini dan dengan
demikian membangun Tubuh Kristus (bdk. CT 1;2). Semua usaha ini
sudah sejak dahulu disebut katakese.
5. Katekese ialah "pembinaan anak-anak,
kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang pada khususnya mencakup
penyampaian ajaran Kristen, dan yang pada umumnya diberkan secara
organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki
kepenuhan kehidupan Kristen" (CT18)
6. Katekese berhubungan erat dengan beberapa
unsur tugas pemeliharaan rohani Gereja, unsur-unsur itu sendiri
memiliki sifat kateketis, mempersiapkan katekese atau merupakan
akibat darinya: perwartaan perintis tentang Injil, artinya khotbah
misioner demi membangkitkan iman; mencari sebab-sebab untuk beriman;
mengalami kehidupan Kristen; merayakan Sakramen-sakramen; diterima
dalam persekutuan Gereja sereta memberikan kesaksian apostolik dan
misioner. (bdk CT18)
7. "Katekese erat sekali berkatitan dengan
seluruh kehidupan Gereja. Bukan saja meluasnya lingkup geografis
dan pertumbuhan jumlah anggotanya, melainkan terutama perkembangan
rohaninya dan keselarasan hidupnya dengan rencana Allah secara hakiki
tergantung pada katekese" (CT13)
8. Periode pembaruan Gereja adalah juga musim
berkembangnya katekese. Demikianlah dalam zaman luhur bapa-bapa
Gereja, Uskup-uskup yang suci telah mengabdikan sebagian besar pelayanan
rohani mereka kepada katekese. Itulah zaman santo Sirius dari Yerusalem
dan santo Yohanes Krisostomus, santo Ambrosius dan santo AAgustinus
dan banyak bapa-bapa yang lain; karya kateketis mereka masih tetap
patut dicontoh.
9. Pelayanan katekese selalu menimba kekuatas
baru dari konsili-konsili. Dalam hubungan ini Konsili Trente merupakan
satu contoh yang sangat berarti; dalam konstitusi dan dekretnya
ia memberi tempat yang terhormat kepada katekese; darinya muncullah
Katekismus Romawi, yang dinamakan juga Katekismus Tridentin, dan
yang sebagai ringkasan ajaran Kristen merupakan karya terkemuka;
konsili iitu memberi dorongan di dalam Gereja untuk mengatur katekese
dengan lebih baik dan menghasilkan penerbitan banyak katekismus
berkat para Uskup dan teolog yang suci seperti santo Petrus Kanisius,
santo Karolus Boromeus, santo Turibio dari Mongrovejo dan santo
Robertus Belarminus.
10. Maka tidak mengherankan, bahwa sesudah
Konsili Vatikan II, yang dipandang oleh Paus Paulus VI sebagai katekismus
besar untuk waktu sekarang, katekese Gereja menarik lagi perhatian.
Direktorium katekese umum tahun 1971, sinode para Uskup mengenai
evangelisasi (1974) dan mengenai katekese (1977) demikian juga surat-surat
apostolik yang berkatitan yakti "Evangelii Nuntiandi"
(1975) dan "Catechesi tradendae" (1979) memberikan kesaksian
tentan itu. Sinode luar biasa para Uskup tahun 1985 menghimbau agar
disusun "satu katekismus atau satu kompendium mengenai seluruh
ajaran iman dan kesusilaan Katolik" (Laporan akhir II.B.a.4).
Paus Yohanes Paulus II menjadikan keinginan sinode para Uskup ini
sebagai tugas pribadinya ketika ia mengakui bahwa "keingnan
ini sangat sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya dari Gereja universal
dan Gereja-gereja lokal" (Wejangan 7 Desember 1985). Ia berusaha
sekuat tenaga untuk memenuhi keingan bapa-bapa sinode ini.
III. Tujuan dan Sasaran Katekismus
11. Katekismus ini hendak menyampaikan dalam
terang Konsili Vatikan II dan seluruh tradisi Gereja satu sintesis
yang organis mengenai isi yang hakiki dan mendasar tentang ajraan
iman dan kesusilaan Katolik. Sumber-sumber utamanya adalah Kitab
Suci, bapa-bapa Gereja, liturgi dan magisterium Gereja. Katekismus
ini dimaksudkan sebagai "acuan untuk katekismus atau kompendium
yang harus disusun di berbagai wilayah" (Sinode para Uskup
1985, Laporan Akhir II.B.A.4).
12. Katekismus ini diperuntukkan terutama bagi
mereka yang bertanggung jawab mengenai katekese: pada tempat pertama
untuk para Uskup sebagai guru iman dan gembala Gereja. Katekismus
ini diberikan keapda mereka sebagai bantuan kerja dalam tugas mengajar
Umat Allah. Selain bagi para Uskup, katekismus ini juga dimaksudkan
bagi pengarang katekismus, para imam, dan katekis, Tetapi diharapkan
agar juga merupakan bacaan berguna bagi semua warga Kristen yang
lain.
IV. Kerangka Katekismus
13. Katekismus ini disusun sesuai dengan keempat
tiang utama dalam tradisi besar penyusunan katekismus: pengakuan
iman pembaptisan (pengakuan iman atau syahadat), Sakramen-sakramen
iman, kehidupan iman (perintah-perintah) dan doa orang beriman (Bapa
Kami).
Pengakuan Iman (Bagian I)
14. Barangsiapa bergabung dengan Kristus melalui
iman dan Pembaptisan harus mengakui iman pembaptisannya di depan
manusia. (bdk. Mat 10:32; Rm 10:9) Karena itu, katekismus ini berbicara
pertama-tama mengenai wahyu, olehnya Allaah berpaling kepada manusia
dan memberikan Diri kepadanya, dan mengenai iman, dengannya manusia
menjawab wahyu Allah itu (Seksi I). Pengakuan iman mencakup semua
anugerah yang diberikan Allah kepada manusia sebagai pemrakarsa
segala yang baik, sebagai penebus, dan sebagai pengudus. Pengakuan
iman tersusun sesuai dengan itga pokok utama iman pembaptisan kita
yaitu: iman kepada Allah yang esa, Bapa yang mahakuasa, dan Pencipta;
iman kepada Yesus Kristus, Putera-Nya, Tuhan kita, dan Penebus.
Dan iman kepada Roh Kudus dalam Gereja yang kudus (Seksi II).
Sakramen-sakramen Iman (Bagian II)
15. Bagian kedua dari katekismu menguraikan
bagaimana keselamatan, yang dikerjakan satu kali untuk selama-lamanya
oleh Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus itu, dihadirkan
bagi kita: melalui kegiatan-kegiatan kudus liturgi Gereja (Seksi
I), terutama melalui ketujuh Sakramen (Seksi II).
Kehidupan dalam Iman (Bagian III)
16. Bagian ketiga menjelaskan tujuan akhir
manusia yang diciptakan menurut citra Allah: kebahagiaan; bagian
ini memperkenalkan juga jalan menuju ke tujuan itu; tindakan yang
bebas dan tepat dengan bantuan petunjuk dan rahmat Allah (Seksi
I). Tindakan ini ialah memenuhi hukum ganda cinta kasih sepertiy
ang dikembangkan dalam sepuluh perintah Allah (Seksi II).
Doa dalam Kehidupan Iman (Bagian IV)
17. Bagian terakhir katekismus berbicara tentang
arti dan nilai doa dalam kehidupan seorang beriman (Seksi I). Bagian
ini ditutup dengan satu komentar singkat mengenai ketujuh permohonan
doa Tuhan, "Bapa Kami" (Seksi II). Dalam permohonan-permohonan
ini terdapat keseluruhan isi harapkan kita yang akan dianugerahkan
Bapa surgawi kepada kita.
V. Petunjuk Praktis untuk Menggunakan
Katekismus
18. Katekismus ini dimaksudkan sebagai satu
penjelasan organis seluruh iman Katolik. Dengan demikian, orang
harus membaanya sebagai satu kesatuan. Petunjuk yang banyak dalam
catatan kaki dan pada tepi teks, demikian pula indeks pada akhir
buku memungkinkan orang melihat tiap tema dalam hubungannya dengan
iman secara menyeluruh.
19. Seringkali Kitab Suci tidak dikutip secara
harfiah, tetapi hanya ditunjuk saja (pada catatan kaki). Membaca
ulang teks-teks Kitab Suci yang bersangkutan sangat membantu suatu
pengertian yang lebih mendalam. Penunjukan teks-teks Kitab Suci
ini pun dimaksudkan sebagai bantuan untuk katekese.
20. Bagian yang dicetak dengan huruf kecil
mengandung catatan historis atau apologetik atau juga penjelasan
dan pelajaran yang melengkapi.
21. Kutipan-kutipan dengan huruf kecil diangkat
dari sumber patristik, liturgi, magisterium, atau hagiografi guna
memperkaya penjelasan ajaran. Seringkali teks-teks ini dipilih sekian,
agar bisa langsung digunakan dalam katekese.
22. Pada akhir tiap tema, teksteks singkat
menyimpulkan isi ajaran yang hakiki dalam rumusan padat. Teks-teks
itu ingin mendorong katekese lokal untuk merumuskan kalimat-kalimat
singkat yang dapat dihafal.
VI. Penyesuaian yang Perlu
23. Katekismus ini pada tempat pertama sekali
bermaksud untuk menjelaskan ajaran. Gunanya ialah untuk memperdalam
pengetahuan iman. Dengna demikian, ia bertujuan agar iman semakin
matang, semakin berakar dalam ke hidupan, dan semakin bercahaya
dalam kesaksian. (bdk. CT 20-22; 25)
24. Berdasarkan tujuannya maka katekismus ini
sendiri tidak dapat membuat penyesuaian dalam penjelasan dan metode
kateketik yang dituntut oleh perbedaan dalam kultur, tahap kehidupa,
dalam kehidupan rohani, dalam situasi kemasyarakatan dan gerejani
dari para alamat. Penyesuaian yang mutlak perlu ini merupakan tugas
katekismus-katekismus lokal dan terutama tugas mereka yang bertanggung
jawab atas pengajaran umat beriman:
"Barangsiapa menjalankan tugas mengajar,
harus 'menjadi segala-galanya untuk semua" (! Kor 9:22),
supaya memenangkan semua mereka untuk Kristus ... janganlah ia
mengira bahwa manusia yang dipercayakan kepada pelayanannya semuanya
mempunyai sifat yang sama, sehingga ia dapat mengajar mereka semua
dengan cara yagn sama menurut skema yang mapan dan pasti, untuk
membnetuk mereka ke arah kesalehan yang benar. Sebaliknya sebagian
dari mereka adalah bagaikan 'bayi yang baru lahir' (1 Ptr 2:2);
yang lain baru mulai bertumbuh dalam Kristus; sedangkan beberapa
sudah termasuk usia dewasa ... Merka yang dipanggil untuk tugas
ini harus mengerti bahwa sangat perlu, agar dalam usaha mengajarkan
misteri iman dan perintah kehidupan, ajaran disesuaikan dengan
daya pikir dan daya tangkap para pendengar" (Catech.R.Pengantar
11).
Terutama - Cinta
Pada akhir pengantar ini perlu diingatkan lagi
akan pedoman pastoral, yang dalam Katekismus Roma dirumuskan sebagai
berikut:
"Seluruh nasihat dan pengajaran harus
diarahkan keppada cinta yang tidak mengenal titik akhir. Jadi,
kalau orang hendak menjelaskan sesuatu yang harus diimani, diharpakan
atau dilaksanakan - maka selalu harus terutama cinta kepada Tuhan
kita dianjurkan, supaya setiap orang dapat mengerti bahwa semua
amal kebajikan kesempurnaan Kristen hanya bersumber pada cinta
dan hanya mengenal satu tujuan, yaitu cinta" (Pengantar 10).
|